Senin, 14 April 2014

Bidadari dari langit



Sudah pukul 09.00 pagi.. mentari sudah mulai memancarkan terik cahayanya ke bumi.

Hikari, bangun.. sudah pagi..” teriakan seorang lelaki paru baya. “Ia yah.. uhuk.. uhuk.. hmmm.. hmmm”. Saya masih terkapar di kasur kamar sederhana bercat biru, warna kesukaan saya. Saya hanya bisa menyahut sebentar, kemudian berbalik dan melihat jam dari handphone.

Sudah pukul 09.00 rupanya, saya seharusnya harus bangun. Semakin saya biarkan diri seperti ini, maka akan semakin sakit terasa. Saya pun bangkit dari tidur kemudian mencari pekerjaan rumah yang bisa saya kerjakan, dengan perasaan pusing di kepala, sesak di dada, dan hidung tersumbat.

Sepertinya saya butuh istirahat hari ini. Saya pun berusaha untuk tetap bisa bergerak agar bisa berkeringat. Meski, sendari berhenti dan kembali berbaring di depan televisi yang berada di ruang keluarga. Hari ini sepi sekali di rumah, mama pergi ke desa membantu keluarga yang sedang mengadakan pesta pernikahan. Kedua adik saya ke sekolah mempersiapkan kartu ujiannya untuk minggu depan. Adik perempuan saya, sebentar lagi akan mengikuti Ujian Akhir sekolah di SMK Abdi Jaya dan adik laki-laki saya juga akan Ujian Akhir di SD Inpres Jaya Abdi. Ayah ke sungai mencari ikan.

Rumah menjadi sangat sepi, untung saja rumah ini menjadi istana yang sederhana yang tidak begitu besar untuk di tinggal sendiri. “Nenene.. nenene.. nenene.. neettttt..” layar handphone menyala tertulis nomor yang tak asing lagi. Itu nomor handphone mama, “Ia ma.. kenapa.. ?”. “Kamu sakit hikari ? Tadi ayah yang menelfon, katanya kamu sakit”.

Hmmm.. Ayah.. tidak bisa simpan rahasia banget sich... kata hati dalam diam.

Hmmm.. tidak kok ma.. Cuma sakit biasa saja.. Hikari baik-baik saja kok”. Sambil menahan batuk dan sesak dada, saya berusaha memberikan suara yang nampak sehat. “Kamu sudah minum obat tidak ? Minum obatnya yach Hikari”. Padahal saya tidak mau minum obat, bukan tidak suka, tapi saya tidak mau membiasakan minum obat. Jadi, selama ini saya tidak pernah beli obat yang seharusnya selalu ada kemana pun saya pergi.

Aduh.. mama.. Hikari tidak kenapa-kenapa.. tenang saja”. Mama mulai menaikkan nada suaranya “Kamu itu, sebentar kamu ikut saja sama adik-adik dan ayahmu kesini”. “Yach.. mama, Hikarikan banyak tugas” dengan suara memelas. “Sudah, kamu kerjakan disini saja nanti.. Kalau kamu tidak ikut kesini.. kamu mau sendiri di rumah ? Kamu kan sakit Hikari.. siapa yang akan jagain kamu disana..”.

Hmmm.. ia ma.. ia.. Hikari akan ikut..”.

Mama mau bicara sama ayah, mana ayah ?”.

Tidak tahu tuch kemana.. sepertinya ke suangai cari ikan, soalnya tadi ayah bawa pancing

Siapkan celana panjang buat adikmu yach.. Mama lupa bawakan celana, ternyata mama Cuma bawa bajunya”.

Ia mamaku sayang”.

Ya sudah, assalamualaikum ?

Waliakumsalam warahmatullah..titttt... tittttt..

Mama memang bidadari dari langit yang diturunkan Allah, khusus untuk saya. Bidadari yang sangat mandiri, beliau yang mengajarkan kemandirian pada saya. Bidadari yang tidak bisa dibohongi atau pun menutup-nutupi sesuatu darinya. Dia pasti tahu, mata-matanya banyak, ada dimana-mana. Pernah, saya terlambat pulang ke rumah dan mama tahu kalau saya mungkin akan nginap lagi. Kapan saya terlambat kasih kabar, pasti bidadari saya itu menelfon. Pokoknya mama adalah bidadari yang terbaik yang selalu dititipkan Allah Swt hanya untuk saya.

Beberapa menit kemudian om, tante, dan anak-anaknya tiba di rumah membawa mobil. Saya pun di suruh siap-siap dan kami menunggu kepulangan adik-adik saya dari sekolah sebelum berangkat. Mentari sudah berada di tengah langit biru, memancarkan teriknya. Rupanya waktu shalat telah tiba, kami pun mendirikan shalat dzuhur berjamaah di rumah.

Adik-adik saya pun akhirnya tiba di rumah dan kami bergegas mempersiapkan keberangkatan ke desa. Diperjalanan handphone saya kembali berdering, rupanya mama menelfon.

Hikari, kamu dimana”.

Ini sudah di mobil mama, sama semuanya”.

Hmmm.. ya sudah hati-hati di jalan. Assalamualaikum ?

Ia mama.. Walaikumsalam warahmatullah..”.

Keadaan tidak enak badan membuat saya hanya bisa terbaring di mobil. Walaupun beberapa kali ikut berfoto dengan adik dan sepupu di dalam mobil. Hingga dua jam lewat, akhirnya kami sampai ke desa.

Mama adalah orang pertama yang menyambut kedatangan kami. Saya pun keluar dari mobil dan pertama kali berlari ke hadapan mama. Bersalaman dan memluknya adalah hal yang paling membahagiakan. Barulah saya bersalaman dengan keluarga yang ada.

Setibanya kami, ternyata mentari telah berubah warna. Rupanya sudah pukul 05.00 sore, saya pun bergegas untuk mendirikan shalat ashar. Selesai shalat, saya berusaha membantu hal yang bisa saya kerjakan. Mama melihat saya dan menegur untuk segera makan dan istirahat.

Mentari akhirnya menghilang, berganti menjadi bulan dan bintang yang bersinar. Bulan dan bintang pun butuh gelap untuk bisa bersinar. Itulah hal yang paling saya suka dari malam, saya suka memandang pancaran cahayanya. Selalu indah.. dan sampai kapan pun akan tetap indah.

Mama, Hikari mau kerja laporan.. dimana Hikari bisa mencolok laptop ?

Sepupu saya angkat bicara “Sudal lah.. kamu ngapain bawa laptop segala.. tidak ada listrik tahu”.

Tenang saja, saya punya bidadari kok yang pasti nolong saya.. kan ada mama”.

Akhirnya, saya pun bisa mengerjakan tugas yang sekali lagi karena bantuan bidadari dari langit.. Mama. Sampai kapan pun saya akan selalu menyayangimu hidup dan mati saya untukmu mama. Bidadari terindah dalam hidup, tak akan pernah terlupakan disepanjang sejarah hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar