Sudah pukul 09.00 pagi.. mentari sudah mulai memancarkan
terik cahayanya ke bumi.
“Hikari, bangun..
sudah pagi..” teriakan seorang lelaki paru baya. “Ia yah.. uhuk.. uhuk.. hmmm.. hmmm”. Saya masih terkapar di kasur
kamar sederhana bercat biru, warna kesukaan saya. Saya hanya bisa menyahut
sebentar, kemudian berbalik dan melihat jam dari handphone.
Sudah pukul 09.00 rupanya, saya seharusnya harus bangun.
Semakin saya biarkan diri seperti ini, maka akan semakin sakit terasa. Saya pun
bangkit dari tidur kemudian mencari pekerjaan rumah yang bisa saya kerjakan,
dengan perasaan pusing di kepala, sesak di dada, dan hidung tersumbat.
Sepertinya saya butuh istirahat hari ini. Saya pun
berusaha untuk tetap bisa bergerak agar bisa berkeringat. Meski, sendari
berhenti dan kembali berbaring di depan televisi yang berada di ruang keluarga.
Hari ini sepi sekali di rumah, mama pergi ke desa membantu keluarga yang sedang
mengadakan pesta pernikahan. Kedua adik saya ke sekolah mempersiapkan kartu
ujiannya untuk minggu depan. Adik perempuan saya, sebentar lagi akan mengikuti
Ujian Akhir sekolah di SMK Abdi Jaya dan adik laki-laki saya juga akan Ujian
Akhir di SD Inpres Jaya Abdi. Ayah ke sungai mencari ikan.
Rumah menjadi sangat sepi, untung saja rumah ini menjadi
istana yang sederhana yang tidak begitu besar untuk di tinggal sendiri. “Nenene.. nenene.. nenene.. neettttt..”
layar handphone menyala tertulis
nomor yang tak asing lagi. Itu nomor handphone
mama, “Ia ma.. kenapa.. ?”. “Kamu sakit hikari ? Tadi ayah yang menelfon,
katanya kamu sakit”.
Hmmm.. Ayah.. tidak bisa simpan rahasia banget sich...
kata hati dalam diam.
“Hmmm.. tidak kok
ma.. Cuma sakit biasa saja.. Hikari baik-baik saja kok”. Sambil menahan
batuk dan sesak dada, saya berusaha memberikan suara yang nampak sehat. “Kamu sudah minum obat tidak ? Minum obatnya
yach Hikari”. Padahal saya tidak mau minum obat, bukan tidak suka, tapi
saya tidak mau membiasakan minum obat. Jadi, selama ini saya tidak pernah beli
obat yang seharusnya selalu ada kemana pun saya pergi.
“Aduh.. mama..
Hikari tidak kenapa-kenapa.. tenang saja”. Mama mulai menaikkan nada
suaranya “Kamu itu, sebentar kamu ikut
saja sama adik-adik dan ayahmu kesini”. “Yach.. mama, Hikarikan banyak tugas” dengan suara memelas. “Sudah, kamu kerjakan disini saja nanti..
Kalau kamu tidak ikut kesini.. kamu mau sendiri di rumah ? Kamu kan sakit
Hikari.. siapa yang akan jagain kamu disana..”.
“Hmmm.. ia ma..
ia.. Hikari akan ikut..”.
“Mama mau bicara
sama ayah, mana ayah ?”.
“Tidak tahu tuch
kemana.. sepertinya ke suangai cari ikan, soalnya tadi ayah bawa pancing”
“Siapkan celana
panjang buat adikmu yach.. Mama lupa bawakan celana, ternyata mama Cuma bawa
bajunya”.
“Ia mamaku sayang”.
“Ya sudah,
assalamualaikum ?”
“Waliakumsalam
warahmatullah..” titttt... tittttt..
Mama memang bidadari dari langit yang diturunkan Allah,
khusus untuk saya. Bidadari yang sangat mandiri, beliau yang mengajarkan
kemandirian pada saya. Bidadari yang tidak bisa dibohongi atau pun menutup-nutupi
sesuatu darinya. Dia pasti tahu, mata-matanya banyak, ada dimana-mana. Pernah,
saya terlambat pulang ke rumah dan mama tahu kalau saya mungkin akan nginap
lagi. Kapan saya terlambat kasih kabar, pasti bidadari saya itu menelfon.
Pokoknya mama adalah bidadari yang terbaik yang selalu dititipkan Allah Swt
hanya untuk saya.
Beberapa menit kemudian om, tante, dan anak-anaknya tiba
di rumah membawa mobil. Saya pun di suruh siap-siap dan kami menunggu kepulangan
adik-adik saya dari sekolah sebelum berangkat. Mentari sudah berada di tengah
langit biru, memancarkan teriknya. Rupanya waktu shalat telah tiba, kami pun
mendirikan shalat dzuhur berjamaah di rumah.
Adik-adik saya pun akhirnya tiba di rumah dan kami
bergegas mempersiapkan keberangkatan ke desa. Diperjalanan handphone saya kembali berdering, rupanya mama menelfon.
“Hikari, kamu
dimana”.
“Ini sudah di mobil
mama, sama semuanya”.
“Hmmm.. ya sudah
hati-hati di jalan. Assalamualaikum ?”
“Ia mama..
Walaikumsalam warahmatullah..”.
Keadaan tidak enak badan membuat saya hanya bisa
terbaring di mobil. Walaupun beberapa kali ikut berfoto dengan adik dan sepupu
di dalam mobil. Hingga dua jam lewat, akhirnya kami sampai ke desa.
Mama adalah orang pertama yang menyambut kedatangan kami.
Saya pun keluar dari mobil dan pertama kali berlari ke hadapan mama. Bersalaman
dan memluknya adalah hal yang paling membahagiakan. Barulah saya bersalaman
dengan keluarga yang ada.
Setibanya kami, ternyata mentari telah berubah warna.
Rupanya sudah pukul 05.00 sore, saya pun bergegas untuk mendirikan shalat
ashar. Selesai shalat, saya berusaha membantu hal yang bisa saya kerjakan. Mama
melihat saya dan menegur untuk segera makan dan istirahat.
Mentari akhirnya menghilang, berganti menjadi bulan dan
bintang yang bersinar. Bulan dan bintang pun butuh gelap untuk bisa bersinar.
Itulah hal yang paling saya suka dari malam, saya suka memandang pancaran
cahayanya. Selalu indah.. dan sampai kapan pun akan tetap indah.
“Mama, Hikari mau
kerja laporan.. dimana Hikari bisa mencolok laptop ?”
Sepupu saya angkat bicara “Sudal lah.. kamu ngapain bawa laptop segala.. tidak ada listrik tahu”.
“Tenang saja, saya
punya bidadari kok yang pasti nolong saya.. kan ada mama”.
Akhirnya, saya pun bisa mengerjakan tugas yang sekali
lagi karena bantuan bidadari dari langit.. Mama. Sampai kapan pun saya akan
selalu menyayangimu hidup dan mati saya untukmu mama. Bidadari terindah dalam
hidup, tak akan pernah terlupakan disepanjang sejarah hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar