Senin, 03 Februari 2014

Ketika Kesadaran Berbicara



Kia sekarang telah ada pada masa-masa ujian akhir sekolah di SMA Cahaya I. Keadaan keluarganya yang Alhamdulillah masih bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, namun Kia bukan anak yang tinggal diam melihat keadaan keluarganya itu. Dia tahu bahwa keuangan dalam keluarganya serba kekurangan, sehingga Kia memilih untuk berusaha sendiri melunasi uang sekolahnya sebagai syarat ikut ujian akhir. Meski Kia sudah bekerja membantu orang tuanya sejak kecil, namun baru sekarang ini Kia tidak ingin merepotkan orang tuanya terlebih lagi soal biaya.
Kia pun berjualan makanan buatan tetangganya di sekolah. Sifat Kia yang bersahabat dengan siapapun membuatnya sangat terbantu dalam jualan yang dia lakukan. Teman-temannya membantunya jualan sampai membeli jualannya. Kira-kira penghasilannya mencapai ratusan ribu perminggu. Alhamdulillah, detik terakhir pembayaran Kia bisa melunasi uang sekolahnya meski mendapat bantuan sejumlah uang dari alumni dari organisasi di sekolahnya. Maklum saja, selain aktif di akademiknya, Kia juga dikenal dengan talentanya dalam berorganisasi.
Akhirnya tiba masa kelulusan, Alhamdulillah Kia bisa lulus dengan nilai yang memuaskan. Masalah yang dihadapi Kia sekarang ialah saat dia tidak bisa lolos masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN), dia tidak dapat melanjutkan kuliah karena masalah biaya lagi. Kia yang diberi kesempatan memperoleh bimbingan belajar yang pembayarannya juga dibantu dan diberikan kesempatan bekerja untuk mengajar disana, membuat Kia tidak menyinyiakan kesempatan yang diberikan oleh Mas Ari. Manager bimbingan telah membantu dan memberikan kesempatan pada Kia untuk bisa lanjut kuliah.

Alhamdulillah, dengan berusaha dan berikhtiar, Kia bisa lolos PTN yang menjadi pilihan pertamanya saat test. Tanpa terasa Kia sudah kuliah, dihari pertama kuliah dia bersikap sesuai dengan yang semestinya dia lakukan. Maklum saja, Kia adalah seorang anak yang memiliki prinsip “Saya akan melakukannya dengan cara saya”. Meski ada peraturan, dia mengikutinya karena itu untuk kedisiplinan bukan untuk menjadi budak yang harus mengikuti apa yang disodorkan padanya.

Kia sadar akan hal yang selama ini terjadi dalam kehidupannya, belajar dari setapak demi setapak kehidupan. Membuat Kia menjadi muslimah yang percaya diri, bertanggung jawab serta sangat independen. Sangat mandiri dan tahu bagaimana untuk tetap kuat untuk diri sendiri dan orang yang dicintainya. Tahu apa yang diinginkannya dan tidak takut mengejar impian. Satu-satunya hal yang menjadi permintaan Kia dari orang-orang adalah kejujuran. Kia cukup kuat untuk menerima kebenaran yang diperolehnya dari setapak-setapak kehidupannya.

Sadar akan siapa dirinya itulah yang membuatnya berusaha untuk bisa bersikap sebagai mana mestinya dalam menjalani setapak kehidupannya sekarang, yaitu mahasiswa baru. Sewaktu di SMA Kia belum bisa mendaftar beasiswa, sehingga di awal perkuliahan Kia harus berusaha lagi untuk bisa melunasi uang kuliahnya. Kia juga berusaha mendaftar beasiswa yang ada dalam kampusnya. Satu semester berlalu, akhirnya Kia bisa memperoleh beasiswa yang menanggung uang kuliah dan uang jajan per-bulannya.

Kia pun sangat menikmati beasiswa yang diterimanya itu, dia bisa membeli buku dan belanja. Keadaan itu jelas sangat membantunya, Kia pun tidak berjualan lagi untuk membiaya kuliahnya. Namun, Kia berjualan sebagai tanggung jawabnya dalam lembaga kemahasiswaan yang diikutinya. Ini membuat Kia tidak kehilangan bakat wirausahanya, bahkan dia semakin sibuk dalam dunia wirausahanya di kelembagaannya tersebut.

Kesibukan Kia awalnya belum mengganggu perkulihan yang dijalaninya. Baru sampai pada tahun kedua kuliah, Kia sudah mendapat tanggung jawab lebih dalam kelembagaan. Kia bukan orang yang gampang menyerah, dia tetap menjalani keduanya dengan tetap berusaha dan berikhtiar. Meski, jarang pulang ke rumahnya karena harus menyelesaikan tugas kuliah dan tanggung jawab di lembaganya yang banyak menyita waktu tentunya.

Kebersahabatan yang Kia miliki masih ada, terbukti dengan perhatian teman-temannya di kampus. Kia selalu dapat teguran dari temannya untuk tidak terlalu sibuk, jaga kesehatan, pulang ke rumah untuk istirahat, dst. Anggapan Kia terhadap sikap teman-temannya pun dianggapnya sebagai bentuk perhatian. Ini membuat Kia merasa tidak enak untuk tampil sibuk atau kelihatan capek, karena bila mereka tahu aktivitas Kia yang padat bisa membuat mereka khawatir. Kia tidak ingin mereka khawatir, begitupun dengan orang tua Kia. Dia memilih tampil dengan tidak ada rasa capek dan kelihatan baik-baik saja di depan mereka semua.

Kia selalu menunjukkan sikap sebagai muslimah yang tangguh dan tidak menyerah dalam aktivitas yang digelutinya. Bahkan saat Kia menegur temannya yang hanya bisa mengeluh akan tanggung jawab yang baru saja akan diberikan. Temannya hanya berkata “Saya beda sama Kia, Kia itu kuat tidak gampang sakit” cetus temannya. MasyaAllah, Kia pun berkata dalam dirinya dengan penuh kesadaran akan dirinya “Ya Allah, Kia juga manusia, Kia juga punya rasa capek, bisa sakit, sedih, marah, dst. Tapi, haruskah itu dipertahankan ?. Kenapa tidak ditanamkan saja dalam diri bahwa ‘Saya kuat, saya bisa melakukannya’. Belum apa-apa sudah ditanamkan dalam diri kalau tidak bisa dan inilah itulah. Hmmmm.. MasyaAllah”.

Kemudian dibeberapa setapak kehidupan selanjutnya, Kia bertemu dengan kenyataan yang membuatnya sadar. Seseorang memberikannya sebuah pernyataan yang benar-benar membuatnya baru sadar. Seseorang itu berkata bahwa “Semua orang itu berbeda-beda, belum tentu dia sama seperti kita. Kamu tahu itu kan ? Individual deference.. Kita tidak bisa memaksakan orang lain harus seperti apa yang kita mau. Egois namanya kalau kita memaksakan orang lain harus sesuai dengan maunya kita”.

Astagfirullah astagfirullah astagfirullah” hati Kia berbisik dengan derai air mata dihatinya. “Yach, saya adalah saya bukan apa yang mereka inginkan. Tapi, saya adalah apa yang saya pikirkan dan inginkan. Begitupun dengan orang lain.” Katanya dalam hati. Kia pun menjalani setapak kehidupannya dengan terus memperhatikan hal yang harusnya bisa menyadarkannya akan hal yang seharusnya disadari.

Di setapak kehidupan selanjutnya, Kia mendapat sebuah bacaan mengenai kesadaran dari seorang penerima beasiswa. Tulisan itu menuliskan bagaimana dia mempergunakan uang beasiswa. Kia mendapat inti dari tulisan itu, seperti ini “Apa bedanya saya dengan para koruptor itu, bersenang-senang dengan uang rakyat. Meskipun memang beasiswa itu untuk saya, tapi layakkah saya bersenang-senang dengan uang tukang becak yang seharian bekerja, para penjual kaki lima yang berpanas-panas di siang hari dan kedinginan di malam hari”. MasyaaAllah, ini membuat Kia menetaskan air di pelupuk matanya secara nyata, bukan hanya dalam hatinya saja.

Bacaan itu membuatnya benar-benar harus sadar dan disadarkan, mungkin masih ada yang membutuhkan dari pada dirinya. Namun, Kia memang membutuhkan beasiswa itu karena ayahnya telah tiada dan ibunya sakit-sakitan sehingga sekarang dia menjadi tulang punggung keluarganya untuk berobat ibu dan sekolah adik-adiknya. Beasiswa per-bulan untuk jajan itu diberikannya pada adiknya untuk makan sehari-hari dan bayar biaya berobat ibunya. Sedangkan gaji dari mengajarnya disisihkan untuk pembayaran sekolah adik-adiknya.

Kia memang tidak mempergunakan semena-mena beasiswa itu, tapi dia berpikir secara sadar bahwa “Apa yang telah saya berikan untuk rakyat atau orang-orang disekitar saya ? Padahal kehadiran mereka semua selalu membantu saya”. Akhirnya Kia pun ‘belajar untuk mengajar’, dia ikut menjadi voluntire ataupun sukarelawan mengajar anak jalanan, membantu warga, dsb. Kia sadar meski belum memiliki banyak hal setidaknya dia memiliki tenaga dan pengetahuan yang bisa dia bagikan bagi orang-orang disekitarnya.
Sadar akan apapun yang dimiliki bukanlah miliknya namun pemilik Sang Maha Pemilik Segala-galanya. Setapak-setapak kehidupan sudah diatur-Nya dengan sedemikian rupa guna kesadaran bicara dan membuat kesadaran mengubah semuanya menjadi lebih dan lebih baik lagi. Walau jatuh dan bangkit selalu berjalan beriringan, namun tidak ada kata untuk tetap berada dalam keadaan jatuh. Bangkitlah bangkitlah, lakukan sesuatu yang nyata untuk semuanya karena-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar