Kia sekarang telah ada pada masa-masa ujian akhir sekolah
di SMA Cahaya I. Keadaan keluarganya yang Alhamdulillah
masih bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, namun Kia bukan anak yang tinggal
diam melihat keadaan keluarganya itu. Dia tahu bahwa keuangan dalam keluarganya
serba kekurangan, sehingga Kia memilih untuk berusaha sendiri melunasi uang
sekolahnya sebagai syarat ikut ujian akhir. Meski Kia sudah bekerja membantu
orang tuanya sejak kecil, namun baru sekarang ini Kia tidak ingin merepotkan
orang tuanya terlebih lagi soal biaya.
Kia pun berjualan makanan buatan tetangganya di sekolah. Sifat
Kia yang bersahabat dengan siapapun membuatnya sangat terbantu dalam jualan
yang dia lakukan. Teman-temannya membantunya jualan sampai membeli jualannya.
Kira-kira penghasilannya mencapai ratusan ribu perminggu. Alhamdulillah, detik terakhir pembayaran Kia bisa melunasi uang sekolahnya
meski mendapat bantuan sejumlah uang dari alumni dari organisasi di sekolahnya.
Maklum saja, selain aktif di akademiknya, Kia juga dikenal dengan talentanya
dalam berorganisasi.
Akhirnya tiba masa kelulusan, Alhamdulillah Kia bisa lulus dengan nilai yang memuaskan. Masalah
yang dihadapi Kia sekarang ialah saat dia tidak bisa lolos masuk ke Perguruan
Tinggi Negeri (PTN), dia tidak dapat melanjutkan kuliah karena masalah biaya
lagi. Kia yang diberi kesempatan memperoleh bimbingan belajar yang
pembayarannya juga dibantu dan diberikan kesempatan bekerja untuk mengajar
disana, membuat Kia tidak menyinyiakan kesempatan yang diberikan oleh Mas Ari. Manager
bimbingan telah membantu dan memberikan kesempatan pada Kia untuk bisa lanjut
kuliah.
Alhamdulillah, dengan berusaha dan berikhtiar, Kia bisa lolos PTN yang
menjadi pilihan pertamanya saat test. Tanpa terasa Kia sudah kuliah, dihari
pertama kuliah dia bersikap sesuai dengan yang semestinya dia lakukan. Maklum
saja, Kia adalah seorang anak yang memiliki prinsip “Saya akan melakukannya
dengan cara saya”. Meski ada peraturan, dia mengikutinya karena itu untuk
kedisiplinan bukan untuk menjadi budak yang harus mengikuti apa yang disodorkan
padanya.
Kia sadar akan hal yang selama ini terjadi dalam
kehidupannya, belajar dari setapak demi setapak kehidupan. Membuat Kia menjadi
muslimah yang percaya diri, bertanggung jawab serta sangat independen. Sangat
mandiri dan tahu bagaimana untuk tetap kuat untuk diri sendiri dan orang yang
dicintainya. Tahu apa yang diinginkannya dan tidak takut mengejar impian.
Satu-satunya hal yang menjadi permintaan Kia dari orang-orang adalah kejujuran.
Kia cukup kuat untuk menerima kebenaran yang diperolehnya dari setapak-setapak
kehidupannya.
Sadar akan siapa dirinya itulah yang membuatnya berusaha
untuk bisa bersikap sebagai mana mestinya dalam menjalani setapak kehidupannya
sekarang, yaitu mahasiswa baru. Sewaktu di SMA Kia belum bisa mendaftar beasiswa,
sehingga di awal perkuliahan Kia harus berusaha lagi untuk bisa melunasi uang
kuliahnya. Kia juga berusaha mendaftar beasiswa yang ada dalam kampusnya. Satu
semester berlalu, akhirnya Kia bisa memperoleh beasiswa yang menanggung uang
kuliah dan uang jajan per-bulannya.
Kia pun sangat menikmati beasiswa yang diterimanya itu,
dia bisa membeli buku dan belanja. Keadaan itu jelas sangat membantunya, Kia
pun tidak berjualan lagi untuk membiaya kuliahnya. Namun, Kia berjualan sebagai
tanggung jawabnya dalam lembaga kemahasiswaan yang diikutinya. Ini membuat Kia
tidak kehilangan bakat wirausahanya, bahkan dia semakin sibuk dalam dunia
wirausahanya di kelembagaannya tersebut.
Kesibukan Kia awalnya belum mengganggu perkulihan yang
dijalaninya. Baru sampai pada tahun kedua kuliah, Kia sudah mendapat tanggung
jawab lebih dalam kelembagaan. Kia bukan orang yang gampang menyerah, dia tetap
menjalani keduanya dengan tetap berusaha dan berikhtiar. Meski, jarang pulang
ke rumahnya karena harus menyelesaikan tugas kuliah dan tanggung jawab di
lembaganya yang banyak menyita waktu tentunya.
Kebersahabatan yang Kia miliki masih ada, terbukti dengan
perhatian teman-temannya di kampus. Kia selalu dapat teguran dari temannya
untuk tidak terlalu sibuk, jaga kesehatan, pulang ke rumah untuk istirahat,
dst. Anggapan Kia terhadap sikap teman-temannya pun dianggapnya sebagai bentuk
perhatian. Ini membuat Kia merasa tidak enak untuk tampil sibuk atau kelihatan
capek, karena bila mereka tahu aktivitas Kia yang padat bisa membuat mereka
khawatir. Kia tidak ingin mereka khawatir, begitupun dengan orang tua Kia. Dia
memilih tampil dengan tidak ada rasa capek dan kelihatan baik-baik saja di
depan mereka semua.
Kia selalu menunjukkan sikap sebagai muslimah yang
tangguh dan tidak menyerah dalam aktivitas yang digelutinya. Bahkan saat Kia
menegur temannya yang hanya bisa mengeluh akan tanggung jawab yang baru saja akan
diberikan. Temannya hanya berkata “Saya beda sama Kia, Kia itu kuat tidak
gampang sakit” cetus temannya. MasyaAllah,
Kia pun berkata dalam dirinya dengan penuh kesadaran akan dirinya “Ya Allah,
Kia juga manusia, Kia juga punya rasa capek, bisa sakit, sedih, marah, dst.
Tapi, haruskah itu dipertahankan ?. Kenapa tidak ditanamkan saja dalam diri
bahwa ‘Saya kuat, saya bisa melakukannya’. Belum apa-apa sudah ditanamkan dalam
diri kalau tidak bisa dan inilah itulah. Hmmmm.. MasyaAllah”.
Kemudian dibeberapa setapak kehidupan selanjutnya, Kia
bertemu dengan kenyataan yang membuatnya sadar. Seseorang memberikannya sebuah
pernyataan yang benar-benar membuatnya baru sadar. Seseorang itu berkata bahwa
“Semua orang itu berbeda-beda, belum tentu dia sama seperti kita. Kamu tahu itu
kan ? Individual deference.. Kita
tidak bisa memaksakan orang lain harus seperti apa yang kita mau. Egois namanya
kalau kita memaksakan orang lain harus sesuai dengan maunya kita”.
“Astagfirullah
astagfirullah astagfirullah” hati Kia berbisik dengan derai air mata
dihatinya. “Yach, saya adalah saya bukan apa yang mereka inginkan. Tapi, saya
adalah apa yang saya pikirkan dan inginkan. Begitupun dengan orang lain.” Katanya
dalam hati. Kia pun menjalani setapak kehidupannya dengan terus memperhatikan
hal yang harusnya bisa menyadarkannya akan hal yang seharusnya disadari.
Di setapak kehidupan selanjutnya, Kia mendapat sebuah
bacaan mengenai kesadaran dari seorang penerima beasiswa. Tulisan itu
menuliskan bagaimana dia mempergunakan uang beasiswa. Kia mendapat inti dari
tulisan itu, seperti ini “Apa bedanya saya dengan para koruptor itu,
bersenang-senang dengan uang rakyat. Meskipun memang beasiswa itu untuk saya,
tapi layakkah saya bersenang-senang dengan uang tukang becak yang seharian
bekerja, para penjual kaki lima yang berpanas-panas di siang hari dan
kedinginan di malam hari”. MasyaaAllah,
ini membuat Kia menetaskan air di pelupuk matanya secara nyata, bukan hanya
dalam hatinya saja.
Bacaan itu membuatnya benar-benar harus sadar dan
disadarkan, mungkin masih ada yang membutuhkan dari pada dirinya. Namun, Kia
memang membutuhkan beasiswa itu karena ayahnya telah tiada dan ibunya
sakit-sakitan sehingga sekarang dia menjadi tulang punggung keluarganya untuk berobat
ibu dan sekolah adik-adiknya. Beasiswa per-bulan untuk jajan itu diberikannya
pada adiknya untuk makan sehari-hari dan bayar biaya berobat ibunya. Sedangkan
gaji dari mengajarnya disisihkan untuk pembayaran sekolah adik-adiknya.
Kia memang tidak mempergunakan semena-mena beasiswa itu,
tapi dia berpikir secara sadar bahwa “Apa yang telah saya berikan untuk rakyat
atau orang-orang disekitar saya ? Padahal kehadiran mereka semua selalu
membantu saya”. Akhirnya Kia pun ‘belajar untuk mengajar’, dia ikut menjadi
voluntire ataupun sukarelawan mengajar anak jalanan, membantu warga, dsb. Kia
sadar meski belum memiliki banyak hal setidaknya dia memiliki tenaga dan
pengetahuan yang bisa dia bagikan bagi orang-orang disekitarnya.
Sadar akan apapun yang dimiliki bukanlah miliknya namun
pemilik Sang Maha Pemilik Segala-galanya. Setapak-setapak kehidupan sudah
diatur-Nya dengan sedemikian rupa guna kesadaran bicara dan membuat kesadaran
mengubah semuanya menjadi lebih dan lebih baik lagi. Walau jatuh dan bangkit
selalu berjalan beriringan, namun tidak ada kata untuk tetap berada dalam
keadaan jatuh. Bangkitlah bangkitlah, lakukan sesuatu yang nyata untuk semuanya
karena-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar