Sebuah
keadaan yang membuat air mata ini menetes. Saya membuka sebuah halaman baru
untuk seorang bidadari terbaik dalam hidup. Keadaannya sekarang berbeda,
sangatlah berbeda. Tapi rasa kasih sayang tak akan pernah berubah untukmu
bidadari. Seorang perempuan paruh baya yang selalu berjuang untuk saya,
memberikan dan melakukan yang terbaik hanya untuk saya. Kecantikan dan keuletannya,
parasnya tak akan pernah pudar dari benak saya selamanya.
Bidadari
itu anak yatim piatu, dia tinggal bersama keluarga dekatnya atau mungkin itu
tantenya. Sejak kecil ia seperti ini, berusaha melakukan yang terbaik untuk
orang-orang disekitarnya. Bidadari itu bekerja keras untuk bisa hidup tanpa
orang tua, ia sangatlah tegar selalu tersenyum di balik semua yang ia rasakan.
Ingin saya sepertinya, tetap tersenyum dan melakukan yang terbaik untuk
orang-orang di sekitarnya.
Bidadari
nan rupawan itu mengajarkan saya akan sebuah kedisiplinan, ia mengatur semuanya
sedetail mungkin. Mulai dari waktu makan, tidur, bermain, belajar, menonton,
dan sebagainya. Pukul 10 malam semua sudah harus istirahat, tidur dalam belaian
dan kecupan seorang bidadari. Dibangunkan untuk melaksanakan shalat malam
berjamaah pun dilakukannya dengan sebuah belaian dan kecupan manisnya lagi. Betapa
bahagianya saya bisa terlelap dengan tenang di pangkuannya.
Tapi,
saya melupakan satu hal. Apa yang dilakukan bidadari itu sewaktu saya
beristirahat bukan kah seorang bidadari tidak beristirahat ?. Bukankah seorang
bidadari itu turus berada di dekat saya untuk menjaga saya. Lalu apa yang
dilakukannya ?. Ternyata bidadari itu, ia tak beristirahat. Saya mengintipnya
ia sedang berdo’a untuk saya, dia sedang berpikir dan bekerja untuk saya. Ia
berusaha mencari apa yang harus ia lakukan esok untuk saya.
Sungguh
ia adalah bidadari terbaik dalam hidup ini. Apa yang telah saya berikan
padanya. Saya hanya tinggal melihat dan melakukan rutinitas yang tak berarti
buat bidadari itu. Sejak menyadari perlakuan dari bidadari itu, saya sadar
bahwa sudah harusnyalah saya bersikap dewasa untuk kedepannya.
Saya
bertekad untuk tidak bergantung terus padanya, saya harus bisa membiayai hidup
saya sendiri walaupun saya masih dibangku sekolah. Itu bukan sebuah alasan,
saya yakin dan percaya kepada Allah Swt akan memberikan yang terbaik untuk saya
selama saya berusaha. Bidadari, saya tidak mau merepotkanmu terus-menerus.
Akhirnya,
jadilah saya seorang anak sekolah yang kemudian tumbuh menjadi seorang
mahasiswi yang berpenghasilan. Saya menjadi seseorang yang sibuk menjadi
aktivis dan civitas akademika di kampus. Berdagang dan mengajar menjadi
rutinitas saya sekarang. Saya lebih banyak menghabiskan waktu diluar istana
bidadari itu.
Istana
bidadari itu, menjadi tempat istirahat, yach hanya sekedar tempat istirahat
bagi saya. Kemudian bidadari itu berkata pada saya “Apa yang kamu kerjakan di
luar, bukankah tugasmu hanya menuntut ilmu, aku tak menyuruhmu membantuku,
fokuslah pada pendidikanmu”. Seketika perasaan ini terhuyung, apa yang saya
lakukan ? apakah saya salah membantu bidadari itu ?. Bidadari, saya hanya ingin
membantumu. Saya tidak mau melihatmu bersedih karena sendiri bekerja.
Saya
bertanya-tanya kepada orang-orang, apa yang harus saya lakukan. Lalu tak ada
yang bisa menjawab kepastian sesungguhnya, karena sungguh saya punya pedoman
yaitu Al-Qur’an dan hanya satu tempat meminta petunjuk dengan berlinang air
mata yaitu Allah Swt. Saya membuka lembar demi lembar, sujud demi sujud saya
lakukan untuk menemukan jawabannya. Sampai akhirnya saya mengetahui bahwa yang
namanya rezki itu sudah ditentukan sama Allah Swt, jadi saya tidak boleh takut
tidak mendapat rezki esok hari.
Kejadian
ini, membuat saya untuk bisa memberikan pemahaman bagi bidadari itu bahwa insya
Allah saya bisa. Syukurlah bidadari itu bisa melihat kesungguhan saya sehingga
memberikan saya kepercayaan. Percayalah bidadari, saya tidak pernah bermaksud
menyianyiakan surga yang ada di istina saya sendiri. Saya akan tetap menjagamu
bidadari, karena ridhomu merupakan ridho Allah Swt.
Hari-hari
berjalan seperti biasanya, saya tetap jarang berada di istana namun saya tak
pernah membiarkan bidadari itu sendiri menghadapi hidupnya. Saya dan bidadari
saling melengkapi, karena tidak ada istana yang lebih indah di dunia melainkan
istana saya bersama bidadari itu. Banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari
luar istana, namun tak kalah banyak dari dalam istana.
Selain
kesadaran akan kedisiplinan, saya juga belajar mengenai keikhlasan dan
kesabaran. Bekerja di istana memang butuh keikhlasan dan kesabaran karena ada
kurcaci-kurcaci kecil yang menghiasi hari-hari saya di istana. Saya memang
jarang ada di istana, tapi saya tak suka keluar istana bila bukan hal yang
bermanfaat. Menemani bidadari dan kurcaci-kucaci kecil itu hal yang sangat
membahagiakan saya saat berada di istana.
Bidadari
selalu memberikan perhatian dan kasih sayangnya pada saya dan kurcaci-kurcaci
kecil saya. Meskipun kurcaci-kurcaci saya kecil, tapi merekalah yang terbaik.
Kami saling bekerjasama untuk membahagiakan bidadari, saling ajar-mengajari
biar bisa berprestasi. Bidadari, saya dan kurcaci-kurcaci kecil memang berbeda
dalam hal konstrak, karena memang tak ada satu pun makhluk hidup yang
konstarnya sama. Jadi, kami saling melengkapi atas ketidakpahaman kami satusama
lain.
Bidadari
saya memang beda dengan bidadari lain, ia juga punya emosi seperti saya
begitupun dengan kurcaci-kurcaci kecil. Kami di istana semuanya punya emosi,
jadi bisa senang, sedih, marah, jijik dan jatuh cinta tentunya. Saya adalah
orang yang paling emosional di istina, untung ada bidadari yang selalu
memulihkan keemosionalan saya.
Keemosionalan
membuat saya mudah marah, sedih dan juga senang. Tapi, kerena itu juga saya
bisa lebih peka dari semua penghui istana. Bila bidadari marah, saya hanya diam
biar ia bisa menenangkan dirinya. Setelah ia tenang barulah saya berbicara guna
menyamakan persepsi kami. Begitupun dengan kurcaci-kurcaci, saya akan berusaha
untuk menjaga emosi saya sendiri. Serta emosi bidadari dan kurcaci-kurcaci
kecil saya.
Di
istana, saya mendapatkan kesadaran mengenai saling mengerti keadaan satu sama
lain dengan adanya perbedaan persepsi dan emosi masing-masing itu. Bidadari
selalu memberikan contoh yang baik buat saya dan kurcaci-kurcaci kecil. Saat
waktu shalat, kami shalat berjama’ah di istana dan bidadari mengajarkan saya
bahwa setiap yang saya lakukan itu haruslah dengan niat karena Allah Swt. Biar
semua kegiatan yang saya lakukan itu menjadi ibadah.
Saat
berada di luar istana, bidadari selalu mencari tahu apa yang saya lakukan.
Bidadari juga akan marah bila saya tidak menceritakan atau memberi ia kabar
saat saya ada di luar istana. Bidadari memang yang paling perhatian sedunia. Selain
bidadari bekerja mencari rezki, ia juga mengurus seisi istana dengan baik.
Termasuk mengurus saya dan kurcaci-kurcaci kecil dengan baik. Ia itu bak
sekedar bidadari buat saya, tapi juga pahlawan saya sedunia. Istana sangatlah
bahagia dan tentram selama bidadari dan kurcaci-kurcaci kecil saya ada.
Saya
yang sudah bertambah dewasa sehingga sudah haruslah bersikap dewasa.
Kurcaci-kurcaci kecil saya pun sudah beranjak dewasa sekarang dan bidadari
semakin lemah karena usia. Bidadari saya memang berbeda dengan bidadari
biasanya, dia juga punya usia dan umur seperi saya begitupun dengan
kurcaci-kurcaci yang sudah beranjak dewasa.
Kedewasaan
yang saya peroleh sekarang menambah tanggung jawan saya di luar istana.
Tanggung jawab sebagai aktivis dan civitas akademika mulai bertambah.
Kurcaci-kurcaci juga demikian, sehingga istana semakin sepi. Tinggallah
bidadari sendiri di istana, ditemani oleh kenangan masa lalu saat kami masih
sering berada di istana bersama-sama.
Tanpa
sadar, saya mulai melupakan istana dan bidadari karena tanggung jawab di luar. Saya
mulai merasa sedih karena digerogoti oleh perasaan yang tak saya pahami. Merindukan
bidadari dan kurcaci-kurcaci, membuat saya berusaha menyempatkan untuk ke
istana menengok bidadari.
Ya
Allah, apa yang hamba lakukan ?.. ada surga dalam istana. Tapi, saya lebih
mementingkan tanggung jawab di luar istana. Padahal jauh lebih penting saya
tinggal di istana menjaga bidadari diakhir hayatnya. Beruntunglah saya bisa
sadar dan memilih untuk tetap lebih lama tinggal di istana untuk menjaga bidadari
ditemani kurcaci-kurcaci. Tanpa harus melupakan tanggung jawab di luar istana.
Terimakasih
bidadari terindah di dunia, saya sadar akan surga yang engkau berikan di
istana. Bidadari yang selalu saya panggil dengan sebutan mama, ia lebih dari
sekedar bidadari buat hidup saya. Rumah adalah istana terindah dalam hidup saya
ditemani oleh adik-adik saya tersayang sebagai kurcaci-kurcaci kecil yang
paling setia dalam hidup saya.
Akhirnya,
tiba sepeninggalan bidadari tercinta. Mama berpulang di usianya yang berajank
65 tahun. Terimakasih mama, kau lebih dari sekedar bidadari dalam istana
kehidupan saya. Saya dan adik-adik paham akan kepergian mama menghadap illahi.
Seharusnya kami bergembira karena mama meninggal dalam keadaan khusnul khotimah
di pangkuan anak-anaknya yang selalu mendo’akan keselamatan untuk mama dunia
dan akhirat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar