Senin, 25 November 2013

Saya Memanggil Bidadari Itu Mama

Sebuah keadaan yang membuat air mata ini menetes. Saya membuka sebuah halaman baru untuk seorang bidadari terbaik dalam hidup. Keadaannya sekarang berbeda, sangatlah berbeda. Tapi rasa kasih sayang tak akan pernah berubah untukmu bidadari. Seorang perempuan paruh baya yang selalu berjuang untuk saya, memberikan dan melakukan yang terbaik hanya untuk saya. Kecantikan dan keuletannya, parasnya tak akan pernah pudar dari benak saya selamanya. 

Bidadari itu anak yatim piatu, dia tinggal bersama keluarga dekatnya atau mungkin itu tantenya. Sejak kecil ia seperti ini, berusaha melakukan yang terbaik untuk orang-orang disekitarnya. Bidadari itu bekerja keras untuk bisa hidup tanpa orang tua, ia sangatlah tegar selalu tersenyum di balik semua yang ia rasakan. Ingin saya sepertinya, tetap tersenyum dan melakukan yang terbaik untuk orang-orang di sekitarnya. 

Bidadari nan rupawan itu mengajarkan saya akan sebuah kedisiplinan, ia mengatur semuanya sedetail mungkin. Mulai dari waktu makan, tidur, bermain, belajar, menonton, dan sebagainya. Pukul 10 malam semua sudah harus istirahat, tidur dalam belaian dan kecupan seorang bidadari. Dibangunkan untuk melaksanakan shalat malam berjamaah pun dilakukannya dengan sebuah belaian dan kecupan manisnya lagi. Betapa bahagianya saya bisa terlelap dengan tenang di pangkuannya. 

Tapi, saya melupakan satu hal. Apa yang dilakukan bidadari itu sewaktu saya beristirahat bukan kah seorang bidadari tidak beristirahat ?. Bukankah seorang bidadari itu turus berada di dekat saya untuk menjaga saya. Lalu apa yang dilakukannya ?. Ternyata bidadari itu, ia tak beristirahat. Saya mengintipnya ia sedang berdo’a untuk saya, dia sedang berpikir dan bekerja untuk saya. Ia berusaha mencari apa yang harus ia lakukan esok untuk saya. 

Sungguh ia adalah bidadari terbaik dalam hidup ini. Apa yang telah saya berikan padanya. Saya hanya tinggal melihat dan melakukan rutinitas yang tak berarti buat bidadari itu. Sejak menyadari perlakuan dari bidadari itu, saya sadar bahwa sudah harusnyalah saya bersikap dewasa untuk kedepannya. 

Saya bertekad untuk tidak bergantung terus padanya, saya harus bisa membiayai hidup saya sendiri walaupun saya masih dibangku sekolah. Itu bukan sebuah alasan, saya yakin dan percaya kepada Allah Swt akan memberikan yang terbaik untuk saya selama saya berusaha. Bidadari, saya tidak mau merepotkanmu terus-menerus. 

Akhirnya, jadilah saya seorang anak sekolah yang kemudian tumbuh menjadi seorang mahasiswi yang berpenghasilan. Saya menjadi seseorang yang sibuk menjadi aktivis dan civitas akademika di kampus. Berdagang dan mengajar menjadi rutinitas saya sekarang. Saya lebih banyak menghabiskan waktu diluar istana bidadari itu. 

Istana bidadari itu, menjadi tempat istirahat, yach hanya sekedar tempat istirahat bagi saya. Kemudian bidadari itu berkata pada saya “Apa yang kamu kerjakan di luar, bukankah tugasmu hanya menuntut ilmu, aku tak menyuruhmu membantuku, fokuslah pada pendidikanmu”. Seketika perasaan ini terhuyung, apa yang saya lakukan ? apakah saya salah membantu bidadari itu ?. Bidadari, saya hanya ingin membantumu. Saya tidak mau melihatmu bersedih karena sendiri bekerja. 

Saya bertanya-tanya kepada orang-orang, apa yang harus saya lakukan. Lalu tak ada yang bisa menjawab kepastian sesungguhnya, karena sungguh saya punya pedoman yaitu Al-Qur’an dan hanya satu tempat meminta petunjuk dengan berlinang air mata yaitu Allah Swt. Saya membuka lembar demi lembar, sujud demi sujud saya lakukan untuk menemukan jawabannya. Sampai akhirnya saya mengetahui bahwa yang namanya rezki itu sudah ditentukan sama Allah Swt, jadi saya tidak boleh takut tidak mendapat rezki esok hari. 

Kejadian ini, membuat saya untuk bisa memberikan pemahaman bagi bidadari itu bahwa insya Allah saya bisa. Syukurlah bidadari itu bisa melihat kesungguhan saya sehingga memberikan saya kepercayaan. Percayalah bidadari, saya tidak pernah bermaksud menyianyiakan surga yang ada di istina saya sendiri. Saya akan tetap menjagamu bidadari, karena ridhomu merupakan ridho Allah Swt. 

Hari-hari berjalan seperti biasanya, saya tetap jarang berada di istana namun saya tak pernah membiarkan bidadari itu sendiri menghadapi hidupnya. Saya dan bidadari saling melengkapi, karena tidak ada istana yang lebih indah di dunia melainkan istana saya bersama bidadari itu. Banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari luar istana, namun tak kalah banyak dari dalam istana. 

Selain kesadaran akan kedisiplinan, saya juga belajar mengenai keikhlasan dan kesabaran. Bekerja di istana memang butuh keikhlasan dan kesabaran karena ada kurcaci-kurcaci kecil yang menghiasi hari-hari saya di istana. Saya memang jarang ada di istana, tapi saya tak suka keluar istana bila bukan hal yang bermanfaat. Menemani bidadari dan kurcaci-kucaci kecil itu hal yang sangat membahagiakan saya saat berada di istana. 

Bidadari selalu memberikan perhatian dan kasih sayangnya pada saya dan kurcaci-kurcaci kecil saya. Meskipun kurcaci-kurcaci saya kecil, tapi merekalah yang terbaik. Kami saling bekerjasama untuk membahagiakan bidadari, saling ajar-mengajari biar bisa berprestasi. Bidadari, saya dan kurcaci-kurcaci kecil memang berbeda dalam hal konstrak, karena memang tak ada satu pun makhluk hidup yang konstarnya sama. Jadi, kami saling melengkapi atas ketidakpahaman kami satusama lain. 

Bidadari saya memang beda dengan bidadari lain, ia juga punya emosi seperti saya begitupun dengan kurcaci-kurcaci kecil. Kami di istana semuanya punya emosi, jadi bisa senang, sedih, marah, jijik dan jatuh cinta tentunya. Saya adalah orang yang paling emosional di istina, untung ada bidadari yang selalu memulihkan keemosionalan saya. 

Keemosionalan membuat saya mudah marah, sedih dan juga senang. Tapi, kerena itu juga saya bisa lebih peka dari semua penghui istana. Bila bidadari marah, saya hanya diam biar ia bisa menenangkan dirinya. Setelah ia tenang barulah saya berbicara guna menyamakan persepsi kami. Begitupun dengan kurcaci-kurcaci, saya akan berusaha untuk menjaga emosi saya sendiri. Serta emosi bidadari dan kurcaci-kurcaci kecil saya. 

Di istana, saya mendapatkan kesadaran mengenai saling mengerti keadaan satu sama lain dengan adanya perbedaan persepsi dan emosi masing-masing itu. Bidadari selalu memberikan contoh yang baik buat saya dan kurcaci-kurcaci kecil. Saat waktu shalat, kami shalat berjama’ah di istana dan bidadari mengajarkan saya bahwa setiap yang saya lakukan itu haruslah dengan niat karena Allah Swt. Biar semua kegiatan yang saya lakukan itu menjadi ibadah. 

Saat berada di luar istana, bidadari selalu mencari tahu apa yang saya lakukan. Bidadari juga akan marah bila saya tidak menceritakan atau memberi ia kabar saat saya ada di luar istana. Bidadari memang yang paling perhatian sedunia. Selain bidadari bekerja mencari rezki, ia juga mengurus seisi istana dengan baik. Termasuk mengurus saya dan kurcaci-kurcaci kecil dengan baik. Ia itu bak sekedar bidadari buat saya, tapi juga pahlawan saya sedunia. Istana sangatlah bahagia dan tentram selama bidadari dan kurcaci-kurcaci kecil saya ada. 

Saya yang sudah bertambah dewasa sehingga sudah haruslah bersikap dewasa. Kurcaci-kurcaci kecil saya pun sudah beranjak dewasa sekarang dan bidadari semakin lemah karena usia. Bidadari saya memang berbeda dengan bidadari biasanya, dia juga punya usia dan umur seperi saya begitupun dengan kurcaci-kurcaci yang sudah beranjak dewasa. 

Kedewasaan yang saya peroleh sekarang menambah tanggung jawan saya di luar istana. Tanggung jawab sebagai aktivis dan civitas akademika mulai bertambah. Kurcaci-kurcaci juga demikian, sehingga istana semakin sepi. Tinggallah bidadari sendiri di istana, ditemani oleh kenangan masa lalu saat kami masih sering berada di istana bersama-sama. 

Tanpa sadar, saya mulai melupakan istana dan bidadari karena tanggung jawab di luar. Saya mulai merasa sedih karena digerogoti oleh perasaan yang tak saya pahami. Merindukan bidadari dan kurcaci-kurcaci, membuat saya berusaha menyempatkan untuk ke istana menengok bidadari.

Ya Allah, apa yang hamba lakukan ?.. ada surga dalam istana. Tapi, saya lebih mementingkan tanggung jawab di luar istana. Padahal jauh lebih penting saya tinggal di istana menjaga bidadari diakhir hayatnya. Beruntunglah saya bisa sadar dan memilih untuk tetap lebih lama tinggal di istana untuk menjaga bidadari ditemani kurcaci-kurcaci. Tanpa harus melupakan tanggung jawab di luar istana. 

Terimakasih bidadari terindah di dunia, saya sadar akan surga yang engkau berikan di istana. Bidadari yang selalu saya panggil dengan sebutan mama, ia lebih dari sekedar bidadari buat hidup saya. Rumah adalah istana terindah dalam hidup saya ditemani oleh adik-adik saya tersayang sebagai kurcaci-kurcaci kecil yang paling setia dalam hidup saya. 

Akhirnya, tiba sepeninggalan bidadari tercinta. Mama berpulang di usianya yang berajank 65 tahun. Terimakasih mama, kau lebih dari sekedar bidadari dalam istana kehidupan saya. Saya dan adik-adik paham akan kepergian mama menghadap illahi. Seharusnya kami bergembira karena mama meninggal dalam keadaan khusnul khotimah di pangkuan anak-anaknya yang selalu mendo’akan keselamatan untuk mama dunia dan akhirat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar