Kalau ditanya soal
alasan kenapa memilih masuk jurusan yang diemban sekarang, itu sudah biasa saya
dengar semenjak saya masuk kuliah. Alasannya saya ingin memberikan perubahan
baik itu dari diri saya pribadi maupun keluarga dan orang-orang yang ada
disekitar saya. Saya sangat ingin bisa mengajar “Belajar untuk Mengajar” yach..
itulah saya, tapi Allah Swt memberikan saya yang terbaik dan saya yakin akan
hal itu. Buktinya, saya yang tidak diloloskan dijurusan pendidikan saat mengikuti
jalur undangan tapi mendapat undangan mengajar di bimbingan belajar.
Subhanallah, Allah Swt sungguh memberikan apa yang dibutuhkan oleh hamba-Nya
bukan apa yang selalu diinginkan oleh hamba-Nya.
Mengajarnya saya di
bimbingan belajar itu tanpa test sebelumnya, karena saya merupakan salah satu
siswi yang bimbingan di tempat itu. Tentunya pihak bimbingan sudah mengetahui
bagaimana saya bisa membagikan pengetahuan saya kepada orang lain dan anak-anak
di sekolah dasar. Allah Swt memang yang maha mengetahui apa yang tidak
diketahui oleh hambanya. Alhamdulillah saya bisa mendapatkan bantuan dana dari
hasil mengajar, sehingga bisa mengurangi beban keluarga. Sejak kelas 5 SD saya
sudah berusaha bekerja membantu keuangan keluarga, bekerja sepulang sekolah
merupakan kebiasaan yang tak biasa lagi.
Saat pendaftaran SNMPTN saya belum tahu harus memilih jurusan apa, entah ada apa saat itu saya mendaftar dengan pilihan pertama Psikologi UNM, kedua Psikologi UNHAS, dan yang terakhir Kehutanan UNHAS. Allah Swt yang menunjukkannya, saya memilih berdasarkan apa yang ada dibenak saya saat itu sesuai dengan kemampuan saya. Dimanapun saya lolos, itulah yang terbaik buat saya dan semuanya. Selama saya sudah berusaha, saya percaya dan yakin Allah Swt akan memudahkan jalan yang terbaik buat hambanya.
Alhamdulillah, tempat
test saya di kampus UNHAS jadi tidak begitu jauh dari tempat tinggal saya di
Sudiang yang kira-kira bisa dengan satu kali naik ojek dan satu kali naik pete-pete.
Saya belum tahu lokasi-lokasi yang ada disana, Alhamdulillah saya mendapat
bantuan dari temannya salah seorang tentor di tempat bimbingan belajar. Saya
ditemani selama test, diantar jemput pula, saya dijemput selalu di Masjid
Kampus UNHAS pagi-pagi. Sambil menunggu saya berusaha melaksanakan ibadah
shalat dhuha dan berdo’a untuk bisa dimudahkan testnya.
Saat tiba di tempat
test saya ternyata satu ruangan dengan teman sekelas saya di SMA dan yang lain
saya belum kenal. Saya berada pada tempat duduk paling sudut belakang karena
nomor urut saya yang terakhir dalam ruangan. Itulah kemudahan yang Allah Swt
berikan untuk saya, saat test saya lupa waktu tinggal beberapa menit setelah
dosen pengawas mengingatkan waktunya hamper habis saya baru sadar bahwa kertas jawaban
saya belum terisi. Menggunakan waktu yang tersisa saya berusaha dan tetap
hati-hati memindahkan jawaban yang sudah saya jawab di soal ke lembar jawaban. Tempat
duduk saya yang di akhir dan berkat izin dari dosen pengawas memberikan saya
sedikit waktu lagi untuk mengisi lembar jawaban saya.
Hari terakhir test yang
berlangsung memang hanya dua hari, dosen pengawas sudah memperingatkan dari
awal mengenai waktu yang dibutuhkan selama menjawab soal test. Selesai test
hari itu, saya sendiri ke depan dan bersalaman dengan dosen pengawas sembari
berterimakasih serta meminta do’anya. Perasaan lega tidak terbendung saat itu,
saya berusaha jalan sendiri untuk pulang ternyata nyasar tapi akhirnya saya
bisa sampai di Masjid Kampus UNHAS. Seperti yang sudah saya katakana dari awal,
saya sudah berusaha dan berdo’a masalah hasilnya hanya Allah Swt yang tahu.
Tiba saat pengumuman,
saya ke tempat bimbingan bersama beberapa teman yang lain melihatnya di
internet. Maklum wife gratis, jadi
beberapa dari kami memilih melihat pengumumannya di tempat bimbingan. Saat itu,
teman yang lain lupa passwordnya,
jadi saya yang pertama di tes hasilnya (kelinci percobaan). Alhamdulillah,
ternyata masuk dan… yach.. semuanya tegang saat itu “Ya… Ica.. kamu lolos
dipilihan pertamamu.. selamat.. selamat..” sambil memeluk erat badan saya yang
kaku seakan tak percaya akan hal itu, hanya diam tercengang yang saya lakukan
saat itu.
Baru beberapa saat
kemudian saya tersadar akan betapa kagetnya dengan pengumuman itu sembari tak
henti-hentinya bersyukur kepada Allah Swt “Alhamdulillah, terimakasih Ya
Allah..”. Kemudian saya memberitahukan kepada orang tua saya di rumah melalui
SMS dan kemudian mencari Kak Ari orang yang membantu saya selama ini. Dia
adalah pemilik cabang bimbingan belajar dan memberikan saya kesempatan mengajar
di bimbingannya “Kak Ari, saya lolos di pilihan pertama.. terimakasih kakak
atas bantuannya selama ini” dengan penuh antusias dan semangat saya mengatakannya.
Kuliah di jurusan
psikologi, jujur saya belum mengetahui apapun mengenai psikologi. Lingkungan di
psikologi pertama kali kami mendapatkan bekal awal dari kakak-kakak di BEM
melalui kegiatan Mabim (Masa bimbingan). Seperti namanya, dalam kegiatan ini
kami dibimbing oleh kakak-kakak langsung mengenai hal-hal dasar yang perlu kami
ketahui sebagai seorang mahasiswa/i terlebih lagi sebagai seorang mahasiswa/i
psikologi.
Salah satu materi dari
Mabim saat itu ialah “Who Are You”, bagaimana kami bisa mengenal diri dari sisi
pribadi, sosial (orang lain), dan idealnya diri sendiri. Disini saya balajar
mengenal diri saya pribadi, bagaimana diri saya dari pandangan orang yang ada
disekitar saya, dan bagaimana diri ideal saya seharusnya. Luar biasa, ini buat
suatu perilaku yang dilakukan akan dinilai langsung oleh orang lain. Jadi, jangan
sampai membuat tingkah laku yang bisa menjatuhkan diri sendiri. “Remain Yourself Better” itulah yang
berusaha saya lakukan, berusaha menjadi diri sendiri yang lebih baik bukan
menjadi orang lain untuk bisa menjadi lebih baik.
Psikologi adalah sebuah
ilmu yang mempelajari perilaku dan proses mental individu dengan lingkungannya,
itu yang saya pahami dari penjelasan dosen saat mata kuliah psikologi umum di
semester awal. Ada tiga mata kuliah psikologi pada semester awal selain mata
kuliah dasar umum, yaitu psikologi umum, psikologi sosial I, dan psikologi
perkembangan anak. Psikolgi umum kami belajar beberapa teori dasar dengan
aliran yang berbeda-beda. Sama halnya dengan psikologi umum, psikologi sosial I
dan psikologi perkembangan anak juga memiliki banyak teori-teori dasar sesuai
dengan aliran yang dibahas pada psikologi umum hanya saja lebih khusus sesuai
dengan bahasannya.
Mulai dari psikologi
umum yang mempelajari psikolgi secara umum, pada mata kuliah ini yang saya
pahami perilaku adalah sesuatu yang dilakukan dan dapat langsung diamati
seperti belajar, menangis, dsb. Sedangkan proses mental lebih kepada covert behaviors (perilaku yang
tersembunyi/rahasia), pikiran, perasaan, dan motif yang dialami dimana ini
semua tak dapat diamati secara langsung. Ruang lingkup psikologi juga dibahas
dalam mata kuliah ini, dimana ruang lingkupnya terbagi manjadi dua yaitu
psikologi teoritis dan terapan. Psikologi teoritis terbagi menjadi dua yaitu
psikologi umum dan psikolgi khusus. Banyak hal mengenai ini, tapi belum bisa
saya jelaskan secara rinci disini.
Selanjutnya, dalam mata
kuliah ini saya mengenal ada beberapa aliran secara umum dalam psikologi yaitu
aliran strukturalisme, fungsionalisme, gestalt, behaviorisme, psikodinamika,
humanistic, dan kognitif. Semua aliran memiliki dasar yang berbeda mengenai
psikologi. Misalnya, aliran struktural yang mengaitkan psikologi dengan
penggambaran struktur yang membentuk pikiran sedangkan aliaran fungsional yang
lebih fokus pada fungsi jiwa dan aliran gestalt yang melihat secara keseluruhan
perilaku bukan bagian perbagian. Berbeda dengan aliran lainnya, behaviorisme
lebih pada faktor pengalaman dan belajar serta fokus terhadap stimulus respon.
Psikoldinamika yang lebih kedapa struktur kepribadian, psikolseksual, mekanisme
pertahanan ego, dsb sedangkan humanistik menekankan pada potensi positif
individu, pengalaman subjektif individu, keinginan bebas, kreatifitas,
kebermaknaan hidup, dsb. Terakhir kognitif, yang memfouskan pada proses
mengetahui bukan merespon stimulus.
Beranjak dari mata
kuliah psikologi umum, psikologi sosial I merupakan mata kuliah berikutnya yang
membuat saya banyak belajar dari perilaku sosial. Dimana psikologi sosial
merupakan salah satu ruang lingkup psikologi secara teoritis dalam hal yang
khusus. Khusus karena psikologi dilihat hanya dari aktivitas manusia dalam
situasi social seperti kelompok, massa, dsb.
Psikologi perkembangan
sama halnya dengan psikologi sosial yang membahas bagian psikologi secara
khusus. Hanya saja khususnya ada pada tahap-tahap psikologis perkembangan dari pranatal
sampai usia lanjut. Fokus semester awal, saya belajar mengenai perkembangan
anak (Pranatal). Mata kuliah ini saya belajar mempelajari perilaku anak, cara
pengasuhan anak sesuai dengan tipenya, kognisi anak seperti apa, dan masih
banyak hal lainnya.
Saya bersyukur, bisa
diberi kesempatan oleh Allah Swt untuk bisa belajar mengenai psikologi, belajar
melihat perlaku diri sendiri dan orang lain. Berusaha berbenah diri untuk
menjadi diri yang lebih baik. Ceritanya disini, sebagai mahasiswi psikologi
sayalah yang dulu menjadi pasiennya untuk diri saya sendiri “Berobat jalan”
begitulah kata-kata sebagian besar mahasiwa/I psikologi.
Jujur, saya adalah
salah satu dari demikian sedikitnya orang-orang yang belum menentukan tujuannya
seperti apa dan bagaimana diri ini kedepannya. Di psikologilah saya diajarkan
pengetahuan awal akan pentingnya tujuan untuk kedepannya. Saya berusaha untuk
bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya. Menuliskan diri yang ideal seperti
apa, akan mengarahkan diri untuk bisa menjadi yang lebih baik lagi agar bisa
mewujudkan diri yang ideal itu.
Pastinya saya ingin
tetap selalu bisa berbagi pengetahuan dengan siapa saja, seperti yang selalu
saya katakana “Belajar untuk Mengajar”. Kemudian saya ingin menjadi seorang
pengusaha yang tetap bisa mengajar, membantu orang lain sebisa saya. Berusaha
untuk tidak terus meminta belas kasiahan dari orang lain tapi tetap membutuhkan
orang lain karena manusia adalah makhluk social yang tak dapat hidup tanpa
orang lain.
Memantaskan diri untuk
bisa mendapatkan yang diinginkan, teringat kata Kakak Ibe (Ilham Baharuddin)
“Allah Swt tidak akan memberikan hal itu, bila dirimu sendiri tidak memantaskan
dirimu untuk hal itu”. Terimakasih kanda, secercak cahaya kata-katamu berhasil
mengubah paradigmaku yang berlebihan sehingga berusaha memantaskan diri untuk
mendapakan yang lebih baik.
Pilihan, hidup adalah
pilihan dan tak ada yang dapat menyalahkan pilihan itu. Teringat kata Kak Fajar
(Rahmat Fajar Asis) “Tidak ada pilihan yang salah ataupun benar, yang ada
hanyalah konsekuensi dari pilihan itu dan konsekuensinya sendiri kita sendiri
yang memilih mau tetap bersedih akan konsekuensi itu atau tetap seperti itu
saja tanpa ada tindakan nyata”. Terimakasih kanda, itu membuat saya berusaha
menimbang sesuatu hal yang harus saya lakukan.
Iman, yach semua harus dilandaskan dengan iman agar Allah Swt selalu berada dekat dengan diri. Allah Swt memang ada dekat, jauh lebih dekat dari urat nadi tapi bila iman tak kuat akan membuat diri merasa jauh dari-Nya hingga bisa lupa dengan-Nya dan hanya mengingat dunia. Teringat kata-kata dari seorang kakak, Kak Salim (Soma Salim Sain) namanya “Shalat-shalat.. dunia ji itu” begitulah kata yang selalu terulang disaat saya dan beberapa yang lain sibuk dengan urusan dunia sedangkan waktu shalat sudah tiba.
Ada juga Kak Najib
(Ainun Najib Al-fatih) yang berkata disaat rapat dan meminta do’a agar kegiatan
bisa dilaksanakan sedangkan saya dan lain malah meneruskan kegiatan tanpa
langsung menghentikan kegiatan untuk melaksanakan ibadah shalat lima waktu. Kak
Najib berkata “Katanya mau dido’akan kegiatan dimudahkan tapi sudah waktu
shalat kenapa tidak dihentikan dulu untuk shalat berjamaah”. Yach benar banget,
kata-katanya kakak-kakak ini buat diri sendiri sadar kalau dunia itu tidak
lebih penting dari ridho Allah Swt yang bisa membuat dunia jauh lebih mudah
bila diri dekat dengan-Nya.
Jaga diri, itu penting
banget dalam menjalani hidup yang keras ini seperti kata-katanya Kak Ma’ruf
(Ma’ruf M Noor) “Keras memang hidup”. Bersyukurlah saya karena mempunyai
seorang bidadari yang sempurna untuk anak seperti saya dari Allah Swt, bidadari
itu adalah mama saya. Bidadari yang selalu menjaga saya dan mengingatkan saya
untuk selalu menjaga diri saya “Jaga diri baik-baik” begitulah katanya. Maklum
saya jarang banget di rumah, bidadari saya sudah memberikan kepercayaan yang
besar buat saya. Jadi, tak akan saya buat bidadari itu terluka ataupun kecewa
dengan kepercayaan penuh yang diberikannya pada saya. I Love You So Much Mom, You’re my Everething, You Is The Best, Anna
Uhibbuki Fillah…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar